Mendampingi setiap langkah perjalanan anda melalui layanan psikologi yang profesional!

Kenapa Umur 20-an Rasanya Semua Orang Sudah Berhasil Kecuali Aku?

Merasa semua orang sudah berhasil di usia 20-an? Kenali quarter life crisis, social comparison, dan cara menghadapi rasa tertinggal dari orang lain.

Umur 20-an katanya masa paling seru.

Mulai kerja.
Lulus kuliah.
Punya penghasilan sendiri.
Traveling.
Punya pasangan.
Bangun bisnis.
Beli kendaraan.
Beli rumah.

Tapi kenyataannya?

Kamu mungkin masih bingung mau jadi apa.

Sudah kirim puluhan CV tapi belum dapat pekerjaan yang diinginkan. Atau sudah bekerja, tetapi setiap hari bertanya-tanya, “Sebenarnya aku mau hidup seperti ini sampai kapan?”

Lalu kamu buka Instagram atau TikTok.

Temanmu baru saja mendapat pekerjaan baru.

Teman yang lain menikah.

Ada yang pergi liburan ke luar negeri.

Ada yang mulai bisnis.

Ada yang upload pencapaian terbaru.

Sementara kamu masih berada di tempat yang sama.

Akhirnya muncul satu pikiran:

“Kok semua orang sudah berhasil, tapi aku belum?”

Kalau kamu pernah merasa seperti itu, kamu tidak sendirian.

Umur 20-an Memang Bisa Terasa Membingungkan

Memasuki usia dewasa awal berarti menghadapi banyak keputusan besar untuk pertama kalinya.

Kita mulai dituntut menentukan arah pendidikan, pekerjaan, hubungan, keuangan, bahkan seperti apa kehidupan yang ingin dijalani.

Masalahnya, tidak ada satu “timeline” yang berlaku untuk semua orang.

Ada yang mendapat pekerjaan di usia 21 tahun.

Ada yang baru menemukan karier yang cocok di usia 27 tahun.

Ada yang menikah di usia 23 tahun.

Ada yang memilih menikah jauh lebih lama.

Ada yang sudah tahu tujuan hidupnya.

Ada juga yang masih mencoba berbagai hal.

Semua itu normal.

Namun, ketika kita terlalu sering melihat pencapaian orang lain, perjalanan hidup sendiri bisa terasa seperti sebuah kegagalan.

Media Sosial Membuat Kita Merasa Semua Orang Lebih Maju

Media sosial membuat perbandingan sosial menjadi semakin mudah.

Kita hanya perlu membuka TikTok atau Instagram untuk melihat potongan kehidupan orang lain dalam hitungan detik.

Masalahnya, yang kita lihat biasanya adalah highlight, bukan keseluruhan cerita.

Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak melihat berapa banyak lamaran yang sebelumnya ditolak.

Kita melihat seseorang traveling, tetapi tidak tahu kondisi finansialnya.

Kita melihat seseorang menikah, tetapi tidak tahu proses panjang yang membawanya sampai ke sana.

Penelitian terbaru pada emerging adults di Indonesia menunjukkan bahwa paparan konten TikTok dan kecenderungan melakukan social comparison berkaitan dengan quarter-life crisis. Algoritma dan konten yang menampilkan pencapaian, gaya hidup, maupun penampilan ideal dapat memengaruhi cara seseorang mengevaluasi dirinya sendiri.

Jadi, tanpa sadar kita membandingkan:

Behind the scenes hidup kita dengan highlight kehidupan orang lain.

“Aku Ketinggalan Nggak, Sih?”

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana.

Tapi kalau terus muncul, lama-lama bisa membuat kita merasa tertinggal.

Teman sudah punya karier.

“Kapan aku?”

Teman sudah menikah.

“Kapan aku?”

Teman sudah punya rumah.

“Kapan aku?”

Teman sudah punya banyak uang.

“Kenapa aku belum?”

Padahal, hidup bukan perlombaan dengan garis finish yang sama.

Tidak ada usia wajib untuk sukses.

Tidak ada usia wajib untuk menikah.

Tidak ada usia wajib untuk punya rumah.

Tidak ada usia wajib untuk mengetahui seluruh tujuan hidupmu.

Ketika Pencapaian Orang Lain Menjadi Ukuran Diri

Social comparison sebenarnya merupakan hal yang manusiawi.

Kita memang sering melihat orang lain untuk memahami posisi diri kita.

Namun, masalah bisa muncul ketika perbandingan tersebut membuat kita terus merasa kurang.

Misalnya:

“Dia lebih sukses, berarti aku gagal.”

“Dia lebih cantik, berarti aku nggak menarik.”

“Dia sudah punya pasangan, berarti hidupku tertinggal.”

“Dia sudah tahu mau jadi apa, berarti aku nggak punya arah.”

Penelitian pada Gen Z pengguna Instagram di Indonesia menemukan adanya hubungan positif antara social comparison dan quarter-life crisis.

Artinya, semakin kuat kecenderungan seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain dalam konteks penelitian tersebut, semakin tinggi pula tingkat quarter-life crisis yang dilaporkan.

Tetapi ini bukan berarti media sosial otomatis menyebabkan quarter-life crisis.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menggunakan media sosial dan bagaimana kita memaknai apa yang kita lihat.

Mungkin Kamu Bukan Tertinggal

Mungkin kamu hanya punya timeline yang berbeda.

Kamu mungkin sedang berada di fase mencoba.

Sedang belajar.

Sedang gagal.

Sedang mengumpulkan pengalaman.

Sedang mencari pekerjaan.

Sedang menyusun ulang rencana.

Atau bahkan sedang berusaha bertahan melewati hari-hari yang tidak mudah.

Dan semuanya tetap merupakan bagian dari perjalanan.

Saat melihat orang lain berhasil, coba ubah pertanyaannya dari:

“Kenapa dia sudah sampai sana sementara aku belum?”

menjadi:

“Apa yang sebenarnya aku inginkan dalam hidupku?”

Karena bisa jadi selama ini kamu bukan mengejar sesuatu yang benar-benar kamu inginkan.

Kamu hanya mengejar sesuatu karena melihat orang lain sudah memilikinya.

Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan?

1. Kurangi membandingkan timeline

Tidak semua pencapaian harus terjadi sekarang.

Cobalah fokus pada perkembangan diri sendiri daripada terus mengukur jarak dengan orang lain.

2. Evaluasi kembali media sosialmu

Perhatikan bagaimana perasaanmu setelah scrolling.

Apakah kamu merasa terhibur?

Atau justru merasa minder, tertinggal, dan tidak cukup?

Kalau mayoritas konten membuatmu merasa semakin buruk tentang diri sendiri, mungkin sudah waktunya mengatur ulang apa yang kamu konsumsi.

3. Tentukan definisi sukses versimu sendiri

Sukses tidak harus selalu berarti jabatan tinggi, gaji besar, menikah muda, atau memiliki banyak aset.

Bagi seseorang, sukses mungkin berarti memiliki pekerjaan yang disukai.

Bagi orang lain, sukses mungkin berarti memiliki waktu untuk keluarga.

Ada juga yang mendefinisikan sukses sebagai hidup yang tenang.

Kamu berhak menentukan definisi suksesmu sendiri.

4. Berhenti menganggap semua keterlambatan sebagai kegagalan

Belum mendapatkan sesuatu bukan berarti kamu gagal.

Belum tahu arah bukan berarti kamu tidak punya masa depan.

Belum mencapai target bukan berarti kamu tidak berkembang.

Kadang kita memang membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan apa yang benar-benar cocok.

Kamu Nggak Harus Punya Semua Jawaban di Usia 20-an

Usia 20-an bukan ujian yang harus diselesaikan secepat mungkin.

Kamu tidak sedang terlambat hanya karena temanmu sudah berada di tempat yang berbeda.

Kamu juga tidak gagal hanya karena hidupmu belum terlihat “jadi” seperti kehidupan orang-orang yang muncul di timeline-mu.

Mungkin sekarang kamu masih mencari.

Dan tidak apa-apa.

Yang penting bukan seberapa cepat kamu sampai dibandingkan orang lain, tetapi apakah langkah yang kamu ambil memang membawa kamu semakin dekat dengan kehidupan yang kamu inginkan.

Kalau perasaan tertinggal, bingung, cemas, atau tidak cukup mulai terasa berat dan mengganggu kehidupan sehari-hari, kamu tidak harus menghadapinya sendirian. Rumah Konsul menyediakan layanan konseling sebagai ruang aman untuk membantu kamu memahami apa yang sedang dirasakan, mengenali kebutuhan diri, dan menemukan langkah yang lebih sesuai dengan kondisi kamu.

Karena hidupmu tidak harus terlihat seperti hidup orang lain untuk bisa disebut berhasil.

Picture of Zee
Zee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Table of Contents

Artikel Terkait

Punya Banyak Teman, Tapi Tetap Merasa Kesepian? Ini Alasannya

Merasa kesepian padahal punya banyak teman? Kenali penyebabnya dan pahami mengapa banyak teman tidak selalu membuat kita merasa terhubung.
September 21, 2026

Kenapa Aku Lebih Nyaman Curhat ke AI daripada ke Manusia?

Kenapa banyak Gen Z lebih nyaman curhat ke AI daripada manusia? Kenali alasannya, manfaat, risiko, dan kapan kamu perlu mencari dukungan dari orang lain.
September 4, 2026

Kenapa Kita Selalu Butuh Validasi dari Orang Lain?

Kenapa kita selalu butuh validasi dari orang lain? Kenali penyebabnya, dampaknya pada self-esteem, dan cara membangun rasa percaya diri tanpa bergantung pada penilaian orang lain.
September 2, 2026

Butuh Bantuan untuk Memahami Kondisi Psikologis Anda?