Pernah nggak kamu upload foto, lalu beberapa menit kemudian bolak-balik cek siapa yang like? Atau ketika cerita ke teman, sebenarnya kamu sudah tahu keputusan yang ingin diambil, tapi tetap bertanya, “Menurut kamu aku salah nggak?”
Atau mungkin kamu pernah merasa senang banget ketika seseorang memuji kamu, tetapi langsung overthinking ketika ada yang mengkritik.
Kalau pernah, kamu nggak sendirian.
Manusia memang memiliki kebutuhan untuk diterima, dihargai, dan dianggap oleh orang lain. Namun, ketika rasa berharga dalam diri terlalu bergantung pada penilaian eksternal, kita bisa mulai merasa bahwa diri kita baru “cukup” ketika mendapatkan validasi dari orang lain.
Apa Itu Validasi?
Validasi adalah bentuk pengakuan bahwa perasaan, pikiran, usaha, atau keberadaan seseorang dianggap dan dipahami.
Misalnya, ketika kamu sedang sedih dan seseorang mengatakan, “Wajar kalau kamu merasa kecewa,” itu merupakan bentuk validasi.
Jadi, membutuhkan validasi bukan berarti kamu lemah atau insecure. Kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain merupakan bagian dari kebutuhan sosial manusia.
Masalahnya muncul ketika validasi eksternal menjadi satu-satunya sumber untuk menentukan harga diri.
Kita mulai berpikir:
“Kalau mereka suka aku, berarti aku cukup baik.”
“Kalau postinganku nggak banyak yang like, berarti aku nggak menarik.”
“Kalau orang lain nggak setuju sama keputusanku, berarti aku salah.”
“Kalau dia nggak memilih aku, berarti aku nggak cukup.”
Di titik ini, penilaian orang lain mulai mengambil alih cara kita menilai diri sendiri.
Kenapa Kita Bisa Jadi Ketergantungan pada Validasi?
1. Kita ingin merasa diterima
Pada dasarnya, manusia membutuhkan koneksi sosial. Kita ingin merasa menjadi bagian dari kelompok dan mendapatkan penerimaan dari orang-orang di sekitar kita.
Karena itu, mendapatkan pujian, perhatian, atau respons positif memang bisa membuat kita merasa senang.
Namun, kalau penerimaan dari orang lain menjadi ukuran utama keberhargaan diri, kita akan semakin sulit merasa cukup tanpa adanya pengakuan eksternal.
2. Self-esteem kita sedang tidak stabil
Self-esteem berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang nilai dan keberhargaan dirinya.
Ketika self-esteem cukup sehat, komentar orang lain tetap bisa memengaruhi perasaan kita, tetapi tidak sepenuhnya menentukan siapa diri kita.
Sebaliknya, ketika rasa percaya diri sangat bergantung pada penilaian eksternal, satu komentar negatif bisa terasa jauh lebih besar daripada sepuluh pujian.
Riset terbaru mengenai Gen Z di Indonesia juga menyoroti bagaimana likes, komentar, views, dan respons digital dapat menjadi bagian dari proses seseorang menilai dirinya sendiri.
3. Media sosial membuat validasi terasa semakin nyata
Dulu, mendapatkan pengakuan mungkin hanya berasal dari orang-orang yang kita temui secara langsung.
Sekarang, kita bisa mendapatkan “angka” dari penerimaan sosial melalui likes, views, komentar, followers, bahkan jumlah orang yang melihat story.
Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya sangat subjektif—seperti “apakah orang menyukaiku?”—terlihat seperti bisa diukur dengan angka.
Padahal, jumlah likes tidak pernah menjadi ukuran objektif tentang seberapa berharga seseorang.
Penelitian terbaru juga menemukan adanya hubungan antara pencarian validasi di media sosial, social comparison, self-esteem, dan psychological distress pada kelompok muda.
“Kalau Aku Berhenti Mencari Validasi, Berarti Aku Nggak Peduli Pendapat Orang?”
Bukan begitu.
Menjadi mandiri secara emosional bukan berarti kita sama sekali tidak membutuhkan pendapat orang lain.
Kita tetap bisa menerima kritik.
Kita tetap boleh senang ketika dipuji.
Kita tetap boleh merasa sedih ketika ditolak.
Yang perlu dibangun adalah kemampuan untuk mengatakan:
“Aku menghargai pendapatmu, tetapi pendapatmu bukan satu-satunya penentu nilai diriku.”
Karena tidak semua orang akan menyukai kita.
Tidak semua keputusan kita akan dipahami.
Tidak semua pencapaian akan mendapatkan apresiasi.
Dan itu bukan berarti kita gagal.

Bagaimana Cara Mengurangi Ketergantungan pada Validasi?
Mulailah dengan bertanya kepada diri sendiri:
“Kalau tidak ada yang melihat, apakah aku tetap menginginkan ini?”
Pertanyaan sederhana ini bisa membantu membedakan antara sesuatu yang benar-benar kita inginkan dan sesuatu yang kita lakukan hanya untuk mendapatkan pengakuan.
Selain itu, coba mulai menghargai diri berdasarkan hal-hal yang tidak bergantung pada respons orang lain.
Misalnya:
“Aku bangga karena sudah berusaha.”
“Aku tahu aku sudah melakukan yang terbaik.”
“Aku boleh salah dan tetap berharga.”
“Aku tidak harus disukai semua orang.”
“Penolakan tidak otomatis berarti aku tidak cukup baik.”
Semakin kita mampu memberikan pengakuan kepada diri sendiri, semakin kecil kebutuhan untuk terus-menerus mendapatkannya dari luar.
Kamu Nggak Harus Selalu Diakui untuk Menjadi Berharga
Validasi dari orang lain memang menyenangkan. Mendapat pujian, perhatian, atau apresiasi juga merupakan hal yang manusiawi.
Tetapi jangan sampai kita hanya merasa berharga ketika seseorang mengatakan bahwa kita berharga.
Kamu tetap punya nilai ketika postinganmu sepi.
Kamu tetap berharga ketika seseorang tidak memilihmu.
Kamu tetap cukup meskipun pencapaianmu belum sebesar orang lain.
Dan kamu tetap boleh menjadi dirimu sendiri meskipun tidak semua orang memahaminya.
Kalau kebutuhan akan validasi mulai membuat kamu sulit percaya pada diri sendiri, terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain, atau memengaruhi hubungan dan keseharian, kamu tidak harus menghadapinya sendirian. Rumah Konsul menyediakan layanan konseling untuk membantu kamu memahami diri, mengelola emosi, dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri maupun orang lain.



